Full width home advertisement

Live must go on

Post Page Advertisement [Top]

Kesehatan

KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA


Kesehatan Reproduksi Remaja

Kesehatan reproduksi secara umum menunjuk pada kondisi kesejahteraan fisik, mental, dan sosial secara utuh dalam segala hal yang berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi, termasuk hak dan kebebasan untuk bereproduksi secara aman, efektif, tepat, terjangkau dan tidak melawan hukum (WHO, 1992:15). Ruang lingkup kesehatan reproduksi adalah sebagai berikut :

1. Pelayanan Keluarga Berencana. Pelayanan ini meliputi memberikan konseling KB dan penyediaan alat kontrasepsi, lengkap dengan nasehat atau tindakan apabila timbul efek samping.

2. Pelayanan kebidanan. Pelayanan ini meliputi memberikan pelayanan kesehatan Atau asuhan bagi perempuan dari masa pranikah, prakehamilan, hingga melahirkan, nifas, menyusui, interval antar kehamilan, hingga masa menopouse, juga pelayanan kepada bayi baru lahir, bayi dan balita, serta pencegahan aborsi.

3. Pelayanan penyakit menular seksual. Pelayanan ini termasuk infeksi saluran reproduksi dan infertilisasi, HIV, dan AIDS.

4. Pelayanan kesehatan reproduksi remaja. Pelayanan ini meliputi pemberian informasi atau pendidikan kesehatan kepada para remaja tentang kesehatan reproduksi (pendidikan seks dini), penyakit-penyakit menular seksual akibat aktivitas seksual yang bebas, bahaya-bahaya narkoba, pernikahan usia muda yang dapat menyebabkan tingginya angka kematian ibu melahirkan, kurang siapnya mental dan psikologi, dan dampak meningkatnya angka perceraian yang akan memberikan dampak sosial (Sastriyani, dkk, 2006:10).

Hak-hak seksual dan kesehatan reproduksi (Konferensi Internasional Kependudukan di Kairo, tahun 1994), antara lain sebagai berikut :

1. Hak untuk mendapatkan informasi dan pendidikan reproduksi.
2. Hak untuk mendapatkan pelayanan dan perlindungan kesehatan reproduksi.
3. Hak untuk memutuskan jumlah dan jarak kelahiran anak.
4. Hak untuk mempunyai kebebasan berpikir dan membuat keputusan tentang kesehatan reproduksi.
5. Hak untuk hidup dan terbebas dari resiko kematian karena kehamilan atau kelahiran ataupun masalah gender.
6. Hak untuk mempunyai kebebasan dan keamanan dalam pelayanan kesehatan reproduksi.
7. Hak untuk mempunyai kebebasan dari penganiayaan dan perlakuan buruk yang menyangkut kesehatan reproduksi.
8. Hak untuk mendapatkan manfaat dari hasil kemajuan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan reproduksi.
9. Hak untuk mempunyai rahasia pribadi dalam menjalankan reproduksi.
10. Hak untuk membangun dan merencanakan keluarga.
11. Hak mempunyai kebebasan berkumpul dan berpartisipasi dalam politik yang bernuansa kesehatan reproduksi.
12. Hak mempunyai kebebasan dari segala bentuk diskriminasi dalam kesehatan reproduksi (BKKBN, 2008b:5)

Dixon (dikutip oleh Darwin, 1996:1-14) menjelaskan bahwa kondisi seksual dikatakan sehat apabila seseorang berada dalam beberapa kondisi. Pertama, terbebas dan terlindung dari kemungkinan tertularnya penyakut yang disebabkan oleh hubungan seksual. Kedua, terlindung dari praktik-praktik berbahaya dan kekerasan seksual. Ketiga, dapat mrngontrol akses seksual orang lain terhadapnya. Keempat, dapat memperoleh kenikmatan atau kepuasan seksual. Kelima, dapat memperoleh informasi tentang seksualitas. Sedangkan, individu dikatakan bebas dari gangguan reproduksi apabila bersangkutan :
1. Aman dari kemungkinan kehamilan yang tidak dikehendaki.
2. Terlindung dari praktik reproduksi.
3. Bebas memilih alat kontrasepsi yang cocok baginya.
4. Memiliki akses terhadap informasi tentang alat kontrasepsi dan reproduksi.
5. Memiliki akses terhadap perawatan krhamilan dan pelayanan persalinan yang aman. serta,
6. Memiliki akses terhadap prngobatan kemandulan (infertility).

Pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja dimaksudkan untuk dapat memberikan pengenalan dan pencegahan bagi remaja dalam mensosialisasikan pengetahuan, sikap, dan perilaku reproduksi yang sehat sebagai dasar bagi pengembangan pembinaan, komunikasi, informasi, dan edukasi bagi remaja. Depkes RI (2004:15) mengidentifikasikan masalah-masalah yang terkait langsung dengan fungsi dan proses reproduksi remaja, antara lain sebagai berikut :

1. Remaja seksual aktif sebelum tercapainya kematangan mental dan sosial.
2. Kehamilan yang tidak dinginkan remaja.
3. menunjang kehamilan sehat (anemia, kurang energi, dan kalori, dan sebagainya).
4. Percobaan pengguguran kandungan yang tidak aman oleh tenaga yang tidak terlatih.
5. Terkena infeksi penyakit menular seksual, termasuk resiko infeksi HIV/AIDS.
6. Resiko berganti-ganti pasangan seksual.
7. Resiko komplikasi kehamilan dan persalinan, termasuk melahirkan bayi prematur dan kelainan lainnya.

No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]

Bottom ad
| Designed by Colorlib